“Tadaima,” sepulang sekolah, aku memasuki rumahku yang seperti tidak berpenghuni ini. Orang yang membantu membereskan rumah hanya datang ketika pagi hari.
“Okaerinasai. Hehe. Sepertinya tidak ada orang,” goda Chii sambil melepas sepatunya.
Dia adalah orang yang paling tau tentang hidupku. Aku anak tunggal dan kedua orang tuaku gila kerja. Dulu, dia sangat sering main ke rumahku, katanya di sini banyak makanan. Karena sekarang dia sudah menjadi artis yang sangat sibuk, dia menjadi jarang main ke rumahku. Aku pun jarang main keluar, aku terlalu malas untuk sekedar berjalan-jalan, apalagi bermain. Lagipula fasilitas yang diberikan orang tuaku di rumah ini sangat lengkap dan menyenangkan.
“Sumimasen,” kata Yama sopan. ”Eh, kok sepi?”
“Hehe, kedua orang tuaku bekerja dan pulangnya dinihari nanti. Aku tidak punya kakak maupun adik, itulah mengapa rumahku selalu sepi,” jelasku sambil menuju ke dapur.
“Kau berani sekali. Wow, sepertinya aku bakal betah disini. Hahaha,” kagumnya ketika dia melihat setumpuk kaset PS yang baru saja dibelikan oleh orang tuaku.”Kenapa kau tidak pernah mengajakku ke sini Chiinen?” tanya Yama sambil tetap asyik mengamati kaset yang bertumpuk dihadapannya. Tidak ada jawaban dari Chii. Ternyata dia sedang asyik email-an dengan seseorang. “Hey Chii, kau tidak memperhatikanku =..=,” ujar Yama kesal.
“Kalian berdua langsung ke taman belakang ya, aku mau menyiapkan makanan kecil dulu,” kataku sambil mengambil beberapa macam snack dari lemari penyimpanan di dapur.
“Oke,” kata Chii sambil tersenyum senang.
“Heh, kau seperti orang gila tau,” celetuk Yama melirik Chii aneh.
Aku datang ke taman belakang sambil membawa nampan berisi minuman dan makanan kecil. Sepertinya aku mengagetkan mereka yang sedang berbicara serius. “Kita mau merundingkan apa sih?”
“Heh, kau ini mengagetkanku saja,” kata Chii membantu membawakan minuman dari nampanku yang memang terlalu penuh.
“Hahaha. Maaf, apa sih yang mau kita bicarakan?” tanyaku lalu duduk membentuk lingkaran bersama mereka berdua.
“Emm aku bingung bagaimana mengatakannya,” jawab Chii menutupi mukanya yang memerah.
“Eh? Yang bener dong Chii,“ ujarku bingung.
“Dia menyukai sahabatmu,” tiba-tiba Yama menyahut santai.
“Eh? Nani? Sahabatku? Umika-chan?” tidak sadar aku memberondong Chii dengan serentetan pertanyaan, meskipun sebenarnya aku ingin menanggapinya dengan biasa saja.
“Iya, dia begitu cantik dan manis,” ucap Chii tersenyum melihat wallpaper handphonenya, yang jelas memampangkan fotonya bersama Umika-chan. Yama yang sedang asyik memakan snack yang aku bawa tidak sengaja melihat perubahan ekspresiku atas jawaban Chii.
“Emm, sebaiknya aku harus menembaknya gimana ya?” tanya Chii agak menerawang.
“Bagaimana kalau kau menembaknya di taman belakang sekolah? Bukankah besok bunga pada bermekaran?” usulku sambil tersenyum pahit.
“Wahh, ide bagus! Aku akan cepat-cepat menelponnya dan memintanya ke sana besok. Kalian harus membantuku ya,” sahut Chii bersemangat, kemudian masuk ke dalam rumah.
Aku hanya bisa diam. Ekor mataku terus mengikuti perginya Chii sampai akhirnya punggung Chii tidak terlihat lagi. Tiba-tiba mataku terasa panas dan akhirnya butiran bening jatuh satu persatu dari sudut mataku.
“Eh? Kamu kenapa?” tanya Yama panik.
“Daijobu, aku tidak apa-apa,” aku mencoba tersenyum, tapi air mataku tidak berhenti mengalir.
“Apakah kau menyukai Chii?” tanya Yama lagi, kali ini lebih berhati-hati.
Aku tidak bisa menjawab, yang ada di otakku hanya Chii dan sahabatku Umika-chan. Mereka adalah 2 orang yang aku sayangi, lalu kenapa aku harus menangis? Aku percaya pada Umika-chan dan dia satu-satunya orang yang tau kalo aku suka Chii.
“Apakah Umika-chan tidak menceritakan Chii padamu? Yang aku lihat, sepertinya dia juga menyukai Chii. Setiap hari dia email-an dengan Chii. Dia juga begitu perhatian ketika dikelas,” ucap Yama pelan, kemudian benar-benar terdiam setelah melihat ekspresiku.
“Benarkah? Dia tidak pernah mengatakannya padaku,” sahutku sangat pelan, dan kini air mataku mengalir semakin deras.
“Apakah dia tau kau menyukai Chii?” tanya Yama setelah kami berdua sempat terdiam agak lama.
“Tentu saja. Tapi aku tau perasaannya, lebih baik aku merelakan mereka bersama,” akhirnya aku berhenti menangis dan mengeringkan airmataku. Saat itulah Chii kembali ke taman belakang. Dia kaget melihat mataku yang agak sembap.
“Kau kenapa Hana-chan?” tanya Chii terdengar khawatir.
“Un?” jawabku bingung. Tiba-tiba Yama mengatakan pernyataan palsu pada Chii.
“Tadi kita sedang asyik bercerita, aku mengisahkan kisah cintaku yang tragis. Sepertinya dia menangis mendengarnya, hahahaha”
“Eh? Jangan percaya, cerita itu bohongan. Kamu cuma buang-buang airmata kalau menangis karena ceritanya,” jawab Chii sambil memukul kepala Yama pelan, tentu saja maksudnya bercanda.
“Ittai,” ujar Yama sepintas melirik padaku.
“Eh? Bohong? Benarkah? Lalu kenapa aku menangis kalo gitu? Ahahaha,” jawabku sekenanya.
“Sepertinya kita harus balik. Kita udah ada janji sama sang ketua bakal balik sebelum jam 3, hehe,” ujar Yama sambil menarik tangan Chii untuk pergi.
“Lho, aku kan masih mau di sini,” rajuk Chii seraya memeluk snack yang belum dibuka.
“Eh, nanti kita bisa dimarahi yabu-kun!” tegas Yama.
“Yahh, baiklah… Dadah Hana-chan, sampai jumpa besok!” seru Chii yang terlihat begitu bahagia ketika mengatakan ‘besok’. Belum lama mereka keluar, tiba-tiba Yama kembali ke taman.
“Hana-chan, aku tau kamu anak yang kuat. Jadi semangat ya,” ucapnya tulus.
“Arigatou Yama-kun,” entah kenapa, tiba-tiba airmataku mengalir lancar lagi.
Hari semakin gelap. Seperti kemarin, aku diam menatap langit, kali ini tanpa bintang. Kemudian…
Drrt… Drrt… Drrt…
New message from chii-kun
Aku benar benar malas membukanya. Tapi pada akhirnya aku buka juga. Dasar payah.
From: chii-kun
Besok datang ke taman belakang sekolah ya. Suaramu kan enak, kamu ikut bernyanyi bersama anak-anak jump yang lain, oke? XD
Tanpa permisi, airmataku terjatuh lagi. Ya, aku sama-sama menyayangi mereka. Jadi kenapa aku harus bersedih? Tidak, Hana-chan, kamu tidak boleh bersedih.
To: chii-kun
Emm tapi aku kan gak tau harus nyanyi lagu apa
From: chii-kun
Oh iya, besok mereka latihan di ruang musik. Datanglah kesana XD
Cukup sudah. Aku tidak sanggup lagi membalas smsnya. Hatiku sudah sangat perih. Aku mencoba berpikir positif tentang kejadian ini. Suasana malam yang begitu tenang membelaiku dalam sunyi. Tak terasa, aku pun tertidur di taman belakang rumahku.
[ ]
wah.. kisah cinta yama yg tragis..
BalasHapussama siapa itu.. xDD
sama aika cunk..ngerti aika ta?sumpah tragis..
BalasHapussi yamanya pegangan tangan sama orang lain #plak
*ngelempar bakiak ke orang yg pnya blog*
BalasHapuskau membuka luka lamaku bek..